Cerpen JadulQ pas SMP

|
CAHAYA DARI LANGIT

Hari hujan, rintik air turun membasahi tanah. Dapat kurasakan betapa lembabnya udara, sama seperti saat itu. Saat di mana wajah dan tubuhku hampir rata dengan tanah. Kenangan tahun terakhirku di SMP.


Waktu itu aku berusia 15 tahun. Aku bersekolah di salah satu SMP terbaik di Indonesia, SMP N 33 Yogyakarta, sekolah kolot penuh tuntutan yang membosankan. Teman-teman sekelasku tak pernah berganti sejak aku kelas satu. Meskipun aku sekelas dengan mereka begitu lama, aku sama sekali tak bisa memahami mereka.


Rose, Mia, Nina, Lukman, Arnold, mereka termasuk kelompok anak yang populer. Aku tak tahu mereka terkenal karena mereka aktif di berbagai kegiatan OSIS atau karena wajah mereka. Tapi yang pasti, mereka selalu mengusikku. Menggangguku dengan bertanya bagaimana pendapatku tentang hal ini dan hal itu.


Selain anak populer, di kelasku, kelas E ada juga kelompok anak pintar yang suka melakukan hal aneh walaupun mereka dekat dengan guru-guru. Misalnya, Aulia si Pendiam. Dia jago matematika. Tapi untuk memahami ucapan dan tulisannya benar-benar membutuhkan usaha keras! Sedangkan Darren, aku menganggapnya sebagai rival. Kami saling bersaing di bidang biologi.


Kelompok yang paling menyebalkan adalah geng Azzara. Berandalan itu sering mengejek teman-teman sekelas dan berbuat onar. Aku heran, kenapa orang seperti dia masih punya teman, bahkan beberapa orang pacar!


Kelompok terbesar adalah kelompok netral. Ini bukan berarti mereka tidak tidak ikut dalam golongan tertentu, hanya saja mereka terlalu beragam dan samar untuk masuk dalam kategori golongan menurut versiku. Contohnya Fany, anak cengeng kekanak-kanakan yang sebangku denganku. Dia tak suka belajar. Setiap hari dia selalu menyanyi, menyanyi, dan menyanyi. Meskipun suaranya merdu, jika kau mendengarnya setiap hari tentu saja akan berubah menjadi menjemukan.


Untung saja di kelas 3 aku tak harus duduk lagi dengannya karena wali kelasku, Pak Arie, mengharuskan kami melakukan pergantian tempat duduk. Pak Arie memutuskan untuk mengubah susunan bangku dan menyuruh kami duduk berpasangan, cowok-cewek. Serentak kami semua protes. Tapi apa boleh buat. Pak Arie memaksa agar murid cowok dan murid cewek bisa berbaur, tidak seperti dulu waktu kami saling membentengi diri.


Tak terasa, dua minggu telah kulewati dengan duduk sebangku dengan Darren. Aku benar-benar tak menyangka bahwa duduk sebangku dengannya bisa begitu asyik dan menyenangkan. Darren benar-benar baik. Obrolanku dengannya selalu ‘nyambung’ dan tak ada habisnya, apalagi soal biologi! Kami saling memberitahu dan tukar-menukar istilah-istilah baru yang kami anggap menarik. Aku bisa mendiskusikan pelajaran dengannya, hal yang sebelumnya tak pernah bisa kulakukan jika berpasangan dengan Fany. Ini sangat aneh dan lucu bagiku karena sebelumnya aku benar-benar menyesali nasib burukku, mengapa aku bisa mengambil nomor undian 12, nomor yang sama dengannya. Tapi kini, aku sadar bahwa aku menanti-nantikan saat bertemu dengannya di sekolah.


Maka, dengan semangat baru aku memasuki ruang kelas. Menyapa teman-teman dengan ceria, membuat mereka heran dengan kerianganku. Sayangnya, inilah hari di mana peristiwa mengerikan itu terjadi. Seandainya aku tahu, aku akan berusaha menyelamatkan teman-temanku, menghindari kemungkinan terburuk. Terngiang di kepalaku, percakapan saat itu, awal dari bencana.


“Tyz..gimana data-data keuangan untuk bazaar minggu depan? Udah kamu rekap semua kan?” sapa Rose.
“Lho, rapat kelas masih hari Sabtu kan?”
“Iya, tapi kan kamu janji kasih hari ini, hari Rabu..”
“Masa’ sih? Sekarang kan Selasa... Ya ampuuun, aku salah jadwal!” seruku kaget. Karena alasan yang samalah kelas kami tidak jadi melakukan presentasi di ruang serbaguna. Ini gara-gara aku salah hari dan lupa membawa bahan presentasi.


Oleh karena itu, sebagai gantinya di kelas Pak Arie mengadakan kuis tentang tokoh-tokoh sejarah terkenal di dunia. Meskipun sederhana, tapi waktu itu sangat menyenangkan dan kami menikmatinya walau hanya sesaat. Tiba-tiba…


Duaaar! Duaar! Duaaaar! 


Terdengar suara ledakan bertubi-tubi dari atas. Keadaan menjadi kacau. Kulihat orang-orang berlari keluar. Lantai 2 dan 3 runtuh! Kaca-kaca jendela pecah. Teman-teman panik, saling menarik, mendorong, berebutan keluar dari pintu kelas yang sempit. Pikiranku kosong, aku tak mampu berbuat apa pun.


“Tenang! Semua tenang!! Jangan panik! Satu-satu keluarnya…” samar kudengar seruan Pak Arie sementara aku semakin jauh tenggelam dalam kegilaan…
“Tyza! Sini! Cepat!” teriak seseorang merenggut tanganku, memaksa kesadaranku kembali.
“Darren!” sahutku mendekatinya. Aku merasakan kelasku pun mulai goyah, bergetar. Aku tahu sekarang aku harus tenang dan berpikir, melakukan sesuatu…
“Nina! Awas! Azzara, tolong bantu Gita!” perintah Darren tegas.
“Mia, ayo naik! Semuanya! Ayo keluar lewat jendela!” teriakku sekuat tenaga. 
Lalu aku melihat kengerian yang lain saat atap kelas mulai roboh, berjatuhan ke atas kepalaku, Darren, Pak Arie dan Fany, menutup jalan kami ke arah pintu. Aku dan Darren segera memaksa Fany yang menangis untuk segera melompati jendela. Pak Arie di belakang kami, membantu sebisanya.


Saat tiba giliranku lompat, keadaan kelas menjadi lebih gawat. Kraaak! Tembok mulai retak dan aku berada persis di bawahnya…


Braaaak! Badanku remuk, kepalaku sakit, hal terakhir yang kulihat adalah Pak Arie di atas tubuhku melindungiku. Dan Darren tergeletak di sampingku…


Saat aku sadarkan diri, rasa sakit menusuk sekujur tubuhku, pandangan mataku kabur. Samar kulihat teman-teman menangis. Kemudian seseorang berkata kalau Pak Arie meninggal. Terdiam aku berusaha mencerna kalimat itu.


Tak mungkin! Ini tak mungkin terjadi!! Pak Arie meninggal gara-gara melindungiku! Teman-teman terluka, Fany kehilangan kakinya, Mia tangannya, bekas-bekas jahitan yang mengerikan! Dan semua itu gara-gara aku! Berhari-hari aku histeris, menangis tak terkendali, meronta, berusaha menyakiti diriku sendiri.


“Tyz… kamu nggak boleh gini terus. Kita nggak apa-apa kok. Ini semua bukan salahmu…” ujar semua orang membujukku. Tak ada yang mempan. Semua hitam kelam, hatiku, penglihatanku. Sampai akhirnya teman-teman berkumpul, berbicara denganku tentang perasaan mereka, pikiran mereka.


Mereka bilang, mereka sayang padaku. Rose bilang, dia senang bekerja sama denganku. Fany bilang aku pendengar dan penasehat yang baik. Darren bilang aku enak diajak ngobrol. Mereka bilang, mereka berterima kasih padaku. Karena aku lupa membawa bahan, kami tidak jadi presentasi di ruang serbaguna dan terhindar dari kematian. 


Aku menangis. Terbata-bata aku mulai bicara, membuka diriku pada mereka. Aku ceritakan semua kata hatiku, keirianku pada mereka anak-anak populer, kecemburuanku pada anak pintar, dan pada kebebasan yang dimiliki Azzara. Aku buruk, aku tak pernah mau menerima mereka apa adanya. Aku merasa salah tempat,. Tapi, mereka hanya berkata kalau mereka tahu. Tersenyum, mereka justru berkata aku adalah teman yang paling baik. Bisa masuk ke kelompok mana pun, memahami dan mengerti mereka. Mereka bilang aku hebat. Dan mereka sangat bangga menjadi temanku. Saat itulah, aku tahu aku telah melihat cahaya dari langit.


NOTE: Hehmmmm,, dulu pas aq bikin nihh cerpen, dah berasa plg bagus, plg miris, plg sedih. Tpi pas aq baca2 lgi, ni cerpen keterlaluan singkatnya, pdhl konflik di dalemnya masih kurang matang. Gezzz,, pdhl aq bikin nihh cerpen luamaaaa bngdd. Aq mank tll pmilih soal kata2. Well well, aq cb bikin cerpen lg kmrn, ga kalah pendeknya. Aq post jg di ikastara. Salah satu abg komen, cerpenku msh terlalu 'premature' endingnya. Aq jd bertekad bikin lgi nihh, skalian iseng2 dkirimin ke ata, sapa taw menang lomba. Lumayan, numpang dicetak di buku kumpulan cerpennya plus dapet novel lavoize pny ata. Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkkk,, yahhh itu klo menang. Klo gak yaaa udah. Keep on writing pokoknya!

3 comments:

Fara said...

Ini juga nyindir aku tau!! huakakakakakaka!! jadi gitu nih, ngga mau duduk semeja sama aq lagi?? *ngambek

rinz said...

wadddduuuuuuhhhh,, kita sekasur aja gmn? kmu nginep t4ku lg ^^
lagian maw semeja dmn? meja makan gpp? wkwkwkwkwkwkwkwkwkkkkk!

Anonymous said...

wakakaaaa ayolah rin ikutan buruan ;p