Malam itu, 28 Februari yang kelam
Terbujur kaku pikirku pada sinar bulan redup
Lepas segala sadar pada renungan tentang hidup
Dingin, dingin dan beku dadaku
Rasa rindu menyelinap jauh dan tajam
Sekejap kulihat dia dalam bingkai dompetku
Renung dan diam
Mataku tersengat
Kususul wajahnya, jauh di seberang pulau
Sesenggukan sepi menyergap hatiku
Ia telah datang, hadir di depan mataku
Dengan wajahnya yang teduh
Cantik laksana edelweis yang berembun saat pagi
Ia bagaikan setiap rintik hujan yang memberika kehidupan
Senyum, sunggingan sederhana bersinar
Menyimpan sejuta makna dan debar dalam diriku
Ia cantik, dan tak pernah secantik itu
Ia anggun, saat suaranya melemahkan nadiku
Ia memanggilku, mas,
Dapatkah ia merasakan?
Senyum getirku,
Menunggu akan kehadirannya,
Saat rasa rindu mendesak.aku pun terbangun
Hanya sebuah bunga tidur rupanya
Tahukah dia, bahwa aku merindukan tatap teduhnya?
Bahwa aku rindu untuk membelai rambut nanasnya ?
Betapa sempurnanya dia bagiku??
Betapa kumencintai dirinya . . .
Terbujur kaku pikirku pada sinar bulan redup
Lepas segala sadar pada renungan tentang hidup
Dingin, dingin dan beku dadaku
Rasa rindu menyelinap jauh dan tajam
Sekejap kulihat dia dalam bingkai dompetku
Renung dan diam
Mataku tersengat
Kususul wajahnya, jauh di seberang pulau
Sesenggukan sepi menyergap hatiku
Ia telah datang, hadir di depan mataku
Dengan wajahnya yang teduh
Cantik laksana edelweis yang berembun saat pagi
Ia bagaikan setiap rintik hujan yang memberika kehidupan
Senyum, sunggingan sederhana bersinar
Menyimpan sejuta makna dan debar dalam diriku
Ia cantik, dan tak pernah secantik itu
Ia anggun, saat suaranya melemahkan nadiku
Ia memanggilku, mas,
Dapatkah ia merasakan?
Senyum getirku,
Menunggu akan kehadirannya,
Saat rasa rindu mendesak.aku pun terbangun
Hanya sebuah bunga tidur rupanya
Tahukah dia, bahwa aku merindukan tatap teduhnya?
Bahwa aku rindu untuk membelai rambut nanasnya ?
Betapa sempurnanya dia bagiku??
Betapa kumencintai dirinya . . .
H.A.W.K

0 comments:
Post a Comment