Mengapa aku memilih dirimu???
Dalam penglihatanku,
Saat itu redup, temaram remang-remang
Sedikit cahaya masuk melalui cornea mataku,
Menembus pupil, aqueous humor, lens, vitreous humor,
Lalu terserap oleh pigmen retinaku,
Kemudian dikembalikannya rangsangan itu ke ganglion cell untuk dihantarkan ke otakku melalui optic nerve.
Kau, hanya untuk melihat siluetmu dalam gelap,
Aku aktifkan banyak sekali rod cells dalam photoreceptors ku.
Kau, hanya untuk melihat detail dirimu,
Aku harus melampaui range yang ditetapkan oleh cone cells'ku.
Kau, demi melihat dirimu seutuhnya,
Aku lewati chiasma itu, aku putarbalikkan di otakku,
Aku terjemahkan, aku distribusikan, aku interpretasikan.
Kemudian aku resapi, dan aku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam pendengaranku,
Getaran gelombang suaramu tertangkap oleh kedua daun telingaku.
Merambat perlahan melalui selaput tipis gendang timpaniku,
Masuk ke bilik tengah, membentur ketiga tulang kecilku,
Berturut-turut, malleus, incus, stapes.
Memperbesar getaran itu beribu kali lipat,
Merambatkannya ke arah jendela bundarku.
Hingga kemudian getaran itu menyentuh cochlea'ku,
Mengguncangkan rambut-rambut di tectorial membrane'ku
Berjalan melalui scala vestibuli dan scala tympani'ku
Hingga aku dapat mengenali frekuensimu, dan mengetahui posisimu,
Di otakku sebaik aku mengetahuinya di hatiku.
Dalam penciumanku,
Zat-zat kimia yang kau hasilkan dari keringatmu,
Menguap dan bercampur di udara
Yang kemudian aku hirup dalam-dalam saat mengambil nafas kehidupan
Menempellah particle itu dalam lubang hidungku
Hingga larut dalam olfactory membrane ku, mengalir dalam olfactory bulb,
Dan tertangkap oleh olfactory track ku.
Sensoriku yang paling primitive ini, langsung menunjukkan jalan pada pheromone'mu
Ke mana arah menuju ke bagian paling dalam otakku,
Yang kemudian bersemayan di sana,
Hingga aku gila menahan godaan nista untuk menerjang
Kecocokan itulah, kegilaan inilah yang membuatku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam perabaanku,
Semua receptor-receptor di kulitku dapat menemukanmu.
Sensitifitas corpuscle ku merasakanmu,
Mekanisme-mekanisme pengenalan yang berbeda pada meissner, paccini, rufini'ku
Menyempurnakan sentuhanmu pada jemariku,
Mentransfer sensasi panas itu, tak hanya ke otakku, namun juga hatiku
Terakhir dalam pengecapanku,
Rasamu buyar bersama salivaku,
Tersedot oleh papilla-papilla'ku,
Mengarah ke ujung manis lidahku.
Sebagaimana glucose,
Semakin lama aku mengecapmu,
Semakin manis legit pula kurasa.
Begitulah rumitnya prosesku memilihmu.
Semoga persepsi yang diterima oleh sensory-sensory'ku ini
Dan aksi yang diintegrasi oleh otakku,
Tak terdistorsi oleh imajinasiku tentang dirimu...
PS: Maafkan puisi acakadut ini yaaa. Semuanya gara-gara stress kebanyakan baca Neuroscience textbook. Anyway, doakan aku agar lancar menghadapi midsemester test yaa. Semoga diberi kemudahan oleh Yang Maha Tahu. Amiiiiin.
Dalam penglihatanku,
Saat itu redup, temaram remang-remang
Sedikit cahaya masuk melalui cornea mataku,
Menembus pupil, aqueous humor, lens, vitreous humor,
Lalu terserap oleh pigmen retinaku,
Kemudian dikembalikannya rangsangan itu ke ganglion cell untuk dihantarkan ke otakku melalui optic nerve.
Kau, hanya untuk melihat siluetmu dalam gelap,
Aku aktifkan banyak sekali rod cells dalam photoreceptors ku.
Kau, hanya untuk melihat detail dirimu,
Aku harus melampaui range yang ditetapkan oleh cone cells'ku.
Kau, demi melihat dirimu seutuhnya,
Aku lewati chiasma itu, aku putarbalikkan di otakku,
Aku terjemahkan, aku distribusikan, aku interpretasikan.
Kemudian aku resapi, dan aku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam pendengaranku,
Getaran gelombang suaramu tertangkap oleh kedua daun telingaku.
Merambat perlahan melalui selaput tipis gendang timpaniku,
Masuk ke bilik tengah, membentur ketiga tulang kecilku,
Berturut-turut, malleus, incus, stapes.
Memperbesar getaran itu beribu kali lipat,
Merambatkannya ke arah jendela bundarku.
Hingga kemudian getaran itu menyentuh cochlea'ku,
Mengguncangkan rambut-rambut di tectorial membrane'ku
Berjalan melalui scala vestibuli dan scala tympani'ku
Hingga aku dapat mengenali frekuensimu, dan mengetahui posisimu,
Di otakku sebaik aku mengetahuinya di hatiku.
Dalam penciumanku,
Zat-zat kimia yang kau hasilkan dari keringatmu,
Menguap dan bercampur di udara
Yang kemudian aku hirup dalam-dalam saat mengambil nafas kehidupan
Menempellah particle itu dalam lubang hidungku
Hingga larut dalam olfactory membrane ku, mengalir dalam olfactory bulb,
Dan tertangkap oleh olfactory track ku.
Sensoriku yang paling primitive ini, langsung menunjukkan jalan pada pheromone'mu
Ke mana arah menuju ke bagian paling dalam otakku,
Yang kemudian bersemayan di sana,
Hingga aku gila menahan godaan nista untuk menerjang
Kecocokan itulah, kegilaan inilah yang membuatku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam perabaanku,
Semua receptor-receptor di kulitku dapat menemukanmu.
Sensitifitas corpuscle ku merasakanmu,
Mekanisme-mekanisme pengenalan yang berbeda pada meissner, paccini, rufini'ku
Menyempurnakan sentuhanmu pada jemariku,
Mentransfer sensasi panas itu, tak hanya ke otakku, namun juga hatiku
Terakhir dalam pengecapanku,
Rasamu buyar bersama salivaku,
Tersedot oleh papilla-papilla'ku,
Mengarah ke ujung manis lidahku.
Sebagaimana glucose,
Semakin lama aku mengecapmu,
Semakin manis legit pula kurasa.
Begitulah rumitnya prosesku memilihmu.
Semoga persepsi yang diterima oleh sensory-sensory'ku ini
Dan aksi yang diintegrasi oleh otakku,
Tak terdistorsi oleh imajinasiku tentang dirimu...
PS: Maafkan puisi acakadut ini yaaa. Semuanya gara-gara stress kebanyakan baca Neuroscience textbook. Anyway, doakan aku agar lancar menghadapi midsemester test yaa. Semoga diberi kemudahan oleh Yang Maha Tahu. Amiiiiin.

22 comments:
Pertamax gan (gaya kaskus)hehehhe
Wah biologi banget.....
ampun dah gak ngulangin SMA lagi takluk aku dengan biologi.
whaha...mantabb rin....
four thumbs up..loh??? haha..
poem in science...
puisi dalam sains...:P
hhmmm... istilah2 ini...dulu rasanya sering di dengar..>,<..
hehe..
Moga Mid Test nya lancarr yaahhh...
Moga gk seteres lg n ujian sukses :)
wew, lagi acakadut aja bisa bikin puisi se ilmiah ini, gimana kalo udah sadar dan kembali normal ya*hayyya..emang selama ini ga normal ya??ahhaha..#ditimpuk banteng
salam kenal=)
biar kacak kadut tapi keren..banyak istilah yg bikin bingung. hehee
Wih keren kata-katanya B)
rinn its so cool!!rin suka ama neuro yaa kok aku benci banger ama jaras yaa..hehehe, bahkan pathwaynya nggak bakal ngafalin deh kalo nggak gara gra anatomii...:* keren rinn
puisi yg bagus banget rinz...penuh sciene sekali...i like it...^_^
Cahyo: haha.. nii dah dsingkat banget. Harusnya satu indra ada 20-40 halaman textbook...
Yudhi dan Insan: makasih yooo doanyaaa... hehehehe
Nova: ermmmm.. kayaknya emg aku ga penah normal dehhh.. abnormal terus adanya....
mbak Fanny: Klo bingung, refer ke wikiped aj gmn? kalo tertarik sih...
Shudai dan Andri: makasiiiih. aku cuma lagi pengen bereksperimen dengan gaya tulisanku.
Dinaaaaa... aku penasaran aja pengen ambil neuro karena ayahku. hahahaha... tapi nggak gitu ngeh juga sama neuro system soale aku lebih suka belajar tentang otot. hihihihihihihihi....
kata-katanya rancak banget... keren puisinya........ aku izin follow ya.........? salam kenal
wowwwww...puisinya keren...full of science....hahaaaa....logika anatomi...hihiiii salah ni pasti...bukan logika anatomi ya...hahaaaaa...
tapi rumus bikin buku suksesnya dewi lestari juga seperti puisi kamu....sebisa mungkin bikin orang ter-nganga-nganga dengan segala istilah yang dipakai...hahahaaaaaaa...
salam :)
Arief: terima kasih. tapi saya baca puisi,u bagus juga kok.
Nufri: Waaaahhh... masih jauhlah kalo dibandingin sama DEE. Aku masih belum bisa bikin cerita panjang-panjang. Cerpen aja gak jadi-jadi, apalagi novel! hahahahaha. Doakan sajalah...
dan aku suka proses menulismu
aku suka ini
salam poersahabatan
again......smart bgt tulisan ini......panca indera yang mengindera cinta dengan detail
sangat cerdas tulisanmu........
good luck buat UTS nya Rinz....
:)
sangat jelas terlihat kamu agak setres dan memaksakan..hehe..bahasanya tidak sepertimu yang biasa
eniwei..ada beberapa hal yang agak aneh..itu yang pengecapan konotatif kan? bwehehe #devil
yah..semangat ujiannya ya
yakh..entah kenapa aku harus ngulang komen..apa iya komenku tadi g masuk? -_-
yaaa.jelas terlihat kamu lagi setres dan bukan kamu yang biasanya..dari bahasanya..hehe
eniwei it's still good
itu yang pengecapan konotatif kan? :P
semangat ujiannya
Kezedot: hahahaha. Sebenernya, aku agak terpengaruh juga sama Gaya tulisanmu. Makanya puisi ini agak-agak erotis gimanaaaa gitu (malah jadi aneh sih menurutku). Belum selihai dirimu yang bisa mengexploitasi 'erotisme' sedemikian rupa utk menyampaikan maksud yg sesungguhnya jauh Lebih bermakna. Salut dehh!
Fadli: panca indera yang mengindera cinta yaa? Huhmmm.. One can say it is LOVE but others may say it is merely LUST. Hahahahahaha...
Sahid: Thankyuuuuuu for the goodluck wish. Hope I can make the 'wish' come true
Dimas: who ever said this poem is connotative? Aku mank dah banyak (selalu) nulis puisi konotatif, tapi untuk yang satu ini, we both know the ugly truth behind it. Hahahahahahaha...
Dimas: Yup,aku mank lagi galau. Daaaan, lagi-lagi aku nyoba bereksperimen dengan Gaya tulisanku. Bosen kan nulis pake style gitu-gitu Aja? Ato mungkin aku Cuma plin-plan dan belum ketemu Gaya nulis yang pas...
puisinya agak panjang tapi tetap menarik kok. terutama karena kata-kata ajaibnya :D
good luck for every thing :D
how goes Rinz.../??
how was yor mid test...??
that was going well..??
Post a Comment