Mungkin sekarang memang sudah agak terlambat, tapi beberapa hari yang lalu masih marak terdengar berita tentang rencana kunjungan kerja Komisi VIII DPR ke Australia. Kunjungan kerja itu katanya terkait dengan regulasi dan jaminan bagi fakir miskin di Indonesia, dengan kata lain, RUU Penanganan Fakir Miskin. Mungkin ga semua orang peduli, atau bahkan mengetahui tentang hal ini (bagi orang-orang yang ga ngikutin berita), tapi yang jelas, banyak kontroversi yang ditimbulkan oleh rencana kunjungan tersebut.
Hal-hal yang menimbulkan kontroversi itu antara lain:
- Banyaknya anggota DPR yang mengikuti kegiatan ini dinilai kurang efektif, tidak pada tempatnya dan menghabiskan dana negara. Anggota-anggota DPR tersebut bahkan mengajak beberapa keluarganya turut serta dalam kunjungan kerja.
- Pemilihan waktu kunjungan yang kurang tepat, saat pemerintahan Australia sedang libur paskah.
- Jadwal kegiatan yang kurang relevan dengan tujuan kunjungan kerja, seperti kegiatan 3 hari di Sidney, kunjungan ke sekolah-sekolah Islamic, dan juga ketiadaan kunjungan ke parlemen Australia yang seharusnya menjadi kegiatan utama dalam kunjungan kerja tersebut.
Nah, yang ingin saya sorot di sini adalah bagaimana tanggapan dan reaksi dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia. Apakah kami, termasuk saya, akan mengabaikan hal ini begitu saja? Ataukah kami akan bereaksi keras sebagaimana layaknya mahasiswa-mahasiswa di Indonesia dan melakukan demo seperti biasanya? Sikap yang kami ambil, diwadahi oleh organisasi PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia) tentu akan menjadi salah satu cerminan kepedulian kami akan masa depan bangsa Indonesia.
Tentu bukan suatu rahasia lagi bagaimana tanggapan masyarakat luas mengenai mahasiswa-mahasiswa yang menuntut ilmu di luar negri. Kebanyakan masyarakat mengira bahwa mahasiswa yang belajar di luar negri, akan bekerja di luar negri, berkeluarga di luar negri, kemudian pindah kewarganegaraan dan tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Opini-opini mengenai ketidakpedulian kami terhadap kemajuan bangsa terus saja berkumandang di masyarakat, meskipun pada kenyataannya banyak pula dari kami yang memilih untuk kembali pulang ke Indonesia dan berjuang bersama-sama generasi muda lain demi kemajuan bangsa. Sesungguhnya, hal tersebut memang tidaklah mudah. Ada banyak sekali perbedaan antara hidup di negara maju dan hidup di negara berkembang. Tentang bagaimana ide-ide yang kami ajukan selalu terbentur dengan masalah dana, birokrasi dan norma masyarakat. Masih sempitnya pola pikir masyarakat yang sulit terbuka pada perubahan terkadang menyebabkan kurangnya dukungan dari berbagai elemen.
Jadi, di sini kami mengambil jalan tengah yang dirasa paling baik dan paling sesuai dalam menanggapi permasalahan tersebut. Sebagai generasi muda yang cerdas namun tetap memiliki sopan santun dan tata krama yang baik, kami mengajukan SURAT TERBUKA KEPADA KETUA KOMISI VIII yang berisi tentang alasan-alasan keberatan kami dan juga saran-saran untuk keefektifan kunjungan kerja tersebut. Dengan mengambil langkah ini, diharapkan komisi VIII dapat meninjau dengan saksama dan merevisi kembali kegiatan kunjungan kerja tersebut. Sayangnya, saya pribadi menilai komisi VIII tidak memberikan reaksi yang positif terhadap isi surat tersebut, malah cenderung bersikap keras dan defensif. PERNYATAAN WAKIL KETUA DPR RI dan sikap anggota komisi VIII yang menutup diri mencerminkan kedangkalan pemikiran dan ketidakterbukaan anggota-anggota komisi VIII terhadap saran dan masukan dari PPIA.
Meskipun komisi VIII DPR memberikan tanggapan demikian kami, PPIA, tidak menyerah atau beralih kepada jalur kekerasan atau pemaksaan. Kami, mahasiswa-mahasiswa yang terdidik, tetap berupaya mengkomunikasikan saran kami dengan jalur yang semestinya, melalui SURAT TANGGAPAN PPIA kami kembali menggarisbawahi ketidakwajaran dalam kunjungan kerja tersebut sekaligus memberikan opsi-opsi tambahan yang dapat dilakukan apabila perubahan rencana tidak dapat dilakukan.
Semoga generasi muda lain dapat mengambil contoh dari sikap PPIA dalam menanggapi permasalahan ini. Mari kita bangun bersama bangsa Indonesia menjadi lebih maju, lebih terbuka dan lebih baik! Hilangkan sikap mengambil jalur kekerasan seperti aksi unjuk rasa atau demo. Perbanyak masukan-masukan cerdas dan berikan solusi-solusi dalam menanggulangi permasalahan, bukan malah saling menuduh dan menyalahkan orang lain. Tunjukkan kecerdasan generasi muda Indonesia, dan berevolusilah menjadi lebih baik lagi!
JAYA INDONESIAKU!!!

6 comments:
Hi, it's Ra-kun. I and Yudi are switching laptop now :D hehehe..
anyway, saya baru ngeh tentang isu ini. bukan apa-apa, cuma kebetulan akhir2 ini gak pernah nonton tv, liat koran, atau baca portal berita online.
saya setuju dengan tulisan ini, pemerintah harusnya bisa lebih bijak. dan mahasiswa harusnya bisa lebih cerdas menanggapi ke-kurang-bijak-an pemerintah kita.
semoga surat PPIA-nya segera mendapat tanggapan positif.
namanya juga DPR sak enake dewe pake uang rakyat
Baca surat terbukanya, jadi merasakan idealisme mahasiswa. memang, harusnya begitu sikap mahasiswa.
jadi pengubah dunia, the agent of change.
semoga emang suratnya bener-bener dibaca deh, bukan hanya sekedar pengantar keberangkatan aja.. ^_^
Wah, saya sangat setuju dengan hal ini! Memang sebagai mahasiswa kita harus bergerak dengan hal yang rasional dan lebih cerdas.
salam kenal :)
gimana ya sikap mahasiswa kalo dia udah jd anggota DPR....?
hehehe....
...kalau tentang kunjungan kerja mah..sudah bukan rahasia lagi...bahwa ini hanya ajang jalan2 para anggota dan skretariat DPR saja...hasil yang didapat dari kunker itu sudah jelas tidak ada sama sekali kecuali foto2 para anggota yang dipajang diruang tamunya masing2...dan oleh2 yang bejibun untuk keluarganya...
kalau menurut saya...kebijakan yang layak di ambil saat ini adalah...evaluasi secara menyeluruh terhadap segala bentuk kunjungan kerja...kalau perlu dibuat peraturan yang ekstrim seperti pelarangan kunjungan kerja keluar negri...karena sudah pasti banyak gak pentingnya di banding manfaatnya untuk rakyat (kalau untuk anggota mah penting)...setelah di evaluasi..dan diperbaiki tata cara kunjungan, biaya...jumlah peserta...barulah dibuka lagi kunjungan itu...yang harusnya jadi lebih efektif dan memang berorientasi untuk memajukan bangsa dan negara...
walau kita capek dan males ngebahas tentang kelakuan para anggota DPR...tapi kita wajib untuk terus mengingatkan...dan jangan pernah putus asa untuk melakukan sesuatu yang baik demi bangsa dan negara ini...
salam :)
Post a Comment