Aku terpana saat Kau mengatakannya. Aku terkejut hingga tak mampu ku bersuara. Banyak hal, banyak cerita yang mungkin belum terungkap. Banyak pula kisah yang masih menanti dan menunggu untuk terajut. Namun apakah mungkin waktu itu kan datang? Saat gelombang demi gelombang dunia baru menerpaku. Membuatku goyah, menguncang hati serta pikiran bersamaan?
Di sinilah kini kusadari dimana aku berpijak. Di dunia ku dalam benteng kesendirian. Dan kulihat Kau tegak berdiri di seberang sana. Dalam dunia mu yang penuh kebersamaan. Tetap mencobaku menjulurkan tangan. Tak sampai peluh keringat kering menunggu. Namun tak jua ku cukup tuk menggapai, melewati pagar berduri senyap ataupun melintasi dinding berperisai hormat.
Kesadaran pun menghentak merasuk. Ini lah keputusan yang telah kupilih. Jalan yang akan mulai kudaki. Terbuka lebar pupil mataku, menciut pula kekokohanku. SIAPKAH AKU?
Hening ku tatap layar. Lagi, lagi, dan lagi. Lariku dalam kata. Tak acap satu ucapan. Lelah, aku belum lelah. Hanya getir.. Getir yang kian meracuni. Tidak, mungkin ini hanyalah takut. Takutku meninggalkan sunyi. Takutku tuk membuka diri dan hati... Setelah sekali hancur berkeping..
Tak sadarkah kau? Betapa sulit bagiku hanya untuk terus hidup dalam sepi. Betapa nista aku menginginkan ramai? Tak perlu kau pertunjukkan itu. Tak perlu kau kirimkan armada langitmu. Tak akan sampai mereka menggapaiku. Karena pun kita hidup dalam dunia yang berbeda, mereka kini mulai tumbuh tertaut terpilin. Jangan, jangan, jangan. Jangan kau uji diriku. Tidak, tidak, tidak, aku mulai ragu untuk mengerti. Saat kau hadapkan aku hanya pada satu pilihan, satu persetujuan. Tak urung ku mampu katakan TIDAK. Meski batin memberontak dan pikiran berteriak. TIDAK. Karena aku masih hidup dalam sunyi, dan kau hidup dalam mentari.
Taukah kau? Bahwa tak bisa tangan menyentuh, tak sampai bunyi tertangkap, hanya huruf berbaris merunjuk kata. Apakah bisa kau menjamin hatiku dengan itu? Apakah bisa kau jaga percaya'ku dengan itu? Saat aku buta akan duniamu dan kau pun masih buram akan duniaku?
Tak sedikit benak bertanya, MAMPUKAH KITA? Aku dengan sendiriku, Kau dengan pasukanmu. Aku dengan kataku, Kau dengan diammu. Aku dengan mandiriku, Kau dengan perintahmu... Satukah kita? Mungkin... Lengkapkah kita? Mungkin... Berlawanankah kita? Mungkin....
Special NOTE for HIM: Namun aku belum menyerah... pada diriku sendiri maupun pada dirimu. Tapi belum juga ku berikan hatiku secara penuh.. Pun belum kau buktikan rangkaian kata manismu.. pun belum kau tunjukkan sikap yakinmu....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment