Aku, aku, dan aku. Keburukanku. Kejelekanku. Kekhawatiranku. Tak lagi biasa aku bagi. Denganmu. Lidahku kelu, tanganku bisu. Tak bisa ku rangkai kata. Untukmu. Tak mampu terucap, tak mampu ku membentuk kalimat. Entah karena kurang nyali, kelebihan pikir, atau keraguan hati.
Aku tebak, lagi-lagi ini angkuhku, atau takutku? Mungkinkah kasihku yang membuatku lumpuh?
Mengapa hanya padamu?
Aku bertanya..
Salahkah aku? Jika tak kupercayakan sedihku padamu?
Hinakah aku jika menyembunyikan masalahku di balik punggungku?
Khianatkah aku jika tak kubicarakan semua itu denganmu?
Aku tak yakin. Aku tak tahu. Aku hanya bimbang. Bingung dan ragu terbelit menjadi satu.
Ini hanyalah rintang kecil, pikirku selalu. Tak pantas aku mengatakannya padamu.
Ini hanyalah hambatan mudah, ulangku sambil lalu. Tak pantas aku membicarakannya di hadapanmu.
Ini hanyalah tantangan ringan kehidupan, ujarku pada diriku. Tak pantas aku mengeluhkannya padamu.
Lagi dan lagi. Tak ingin kuhabiskan sedikit waktu berhargamu denganku hanya untuk itu. Tak mau kusiakan detik-detik langkamu denganku hanya untuk menyeretmu dalam alunan senduku. Tak sudi kubuang detak jantungmu bersamaku hanya untuk memperlihatkan kelemahanku di hadapanmu. Tidak, tidak, dan tidak.
Aku bertanya....
Salahkah aku? Jika aku hanya ingin menggunakan waktuku untuk menyenangkanmu?
Hinakah aku jika mauku habiskan detik-detikku hanya untuk menghiburmu?
Khianatkah aku jika hasratku tuk melihat senyummu dalam setiap detak jantungku?
Kudengar suaraku dalam canda tawamu bergaung hampa tanpa nada. Tak terhindar lagi tanyaku. Taukah kau kalau kututupi semua itu di balik bayangku? Sadarkah kau bila ku lakukan itu agar aku dapat menyambutmu dengan senyumku?
Apakah diammu karena kau menyadarinya? Mungkinkah kata lainmu merupakan pengertianmu? Benarkah penerimaan itu berarti pengampunanmu? Ataukah bincangmu hanya taburan manis penutup rindu?
Aku tak yakin. Aku tak tahu. Aku hanya bimbang. Takut dan kecemasan makin melilitku.
Lagi dan lagi. Aku tau aku sedang jatuh. Terperosok dalam lubang yang sama. Keraguan yang sama. Ketakutan yang sama. Kekhawatiran yang sama. Bimbang yang terus membayang.
Sampai kapan kah kau akan tahan? Lelah kah kau kelamaan? Aku makin tercekam kelam. Mampukah kau mengerti? Mampukah kau menjangkauku yang tersembunyi di sudut? Sanggupkah kau raba dan rasakan hatiku sebelum cahaya lain menimpaku?
Karena makin ku sayang kau, semakin ku bungkam.
Lagi dan lagi. Aku tatap sosokmu saat kau terbang dengan sepenuh jiwamu,
Sedangkan aku dsini masih cemas mencoba mengais sayap tuk tentukan arah langitku..
NOTE: I do really feel like an idiot. Seriously! I mean, I still confused to decide my own future. Geeezzzzz,,,, I'm still trying to delay it till the very last minute. Sh*t lah! How could I go on like this? And I can't share it with anyone as well. I know what will they say about it. Gggggggrrrrr... Coz for the time being, it is purely depending ON ME, my decision. Huffff,,, Ya Allah, pliz show me the best choice!

4 comments:
hemm..yang terhalus yang pernah aku baca..walau note akhirnya sedikit membuat aku berpikir jelek (maaaf)
er..saran sih..
kamu dah meyakinkan dirimu buat hadapi ini
so just be strong..
cuz if you see the world..there're many people that hurted much much more than you
be thankful for what you hav :)
hahahaha,, I know. Makanya aq ga maw ngrepotin orang2 dsekitarku. Masih bimbang antara mengejar mimpi atau settle down sesuai jalan yg udah dikasih. Desember ntar aq bakal posting ttg Final Resolution'ku. Ehh,, apa sebaiknya aq minta pendapatmu yahh?
semangat aja lah sayang. jangan terlalu dipikirin juga soal yang kemarin itu hihihi aku tau kamu itu kuat, mungkin kamu masih butuh ketemu dia dulu buat yakin ngeluarin semua yang kamu pendam. let it be aja :D better ketemu dulu deh baru blak-blakan. kan bisa keliatan tuh dari matanya ;p
hehehehhe.. hope so. I juz dont wanna lose. I wanna be a proper girl.. especially for my father n myself.
*LOHHH?
Post a Comment