Kau Kalungkan Cerita syahdu dimeja muka bumi.
Kau rajutkan Duka Duri demi cinta yang kau nanti.
Biarpun senja menari menapaki jalannya hari namun Perawan Senja tetap setia menanti.
Kau Guratkan Senyum yang kau tahu rasanya kelat untuk angin yang menemani.
Keringat yang berhujan kau semaikan dikala panas,namun kau masih mencari.
Cerita Sunyi yang dibawa angin kau tepisi.
Kau tiupkan nafas pada semesta berharap dia merasai sejuknya nafasmu.
Nada sumbing yang terlontar kau mencoba untuk tuli.
Perawan Senja tetap tegar menanti.
Dingin kelam merasak kekulitmu,kau senyumi.
Hanya cobaan kecil yang biasanya kau amini.
Terpana Adam melihat pekat matamu.kau gubrisi.
Tak sebait keluar dari bibirmu untuk menyahuti Adam.
Karena kau perawan yang menanti.
Bergejolak bumi memedam marah pada semua.
Tapi kau tetap berdiri manis,ya kau masih setia menanti.
Kendati kau tahu jalan Hati tetap menuju sepi namun kau tetap sendiri.
Kau tutup jantungmu agar tak teraba dunia lain.
Kau jiwakan semuanya untuk yang kau nanti.
Menanti disudut Senja yang menafaskan sunyi.
Wahai Perawan Senja bilakah engkau berhenti menanti?
CREATED BY ANGGINI TRI WIJAYANTI
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

4 comments:
sempet kaget menyadari "gaya puisimu berubah"? hehe..
tapi aku suka ini.. :)
Dimas,,, ituu lhoo! ada CREATED BY ANGGINI TRI WIJAYANTI di bawahnya..
jadi bukan 'gayaku' yg berubah,,, memang beda penulis,,,,
hahahahah si dimas kayanya ga baca dengan fokus deh -,- model-model fast reader nih kayanya #sensi ata.
hahahahaha... ata komen yg beneran donk.. ini puisi masuk draft kita lhoo! bagus yaaaa?
Post a Comment