Terbentur

|
Hujan rintik turun terlihat dingin di balik jendela
Angin kencang bertiup menggugurkan dedaunan
Kosong kumenatap langit di balik kacaku yang tertutup kabut
Tak jelas pikirku berkelana  mengawang-awang
Adakah timbul cercah sinar matahari cerah setelah ini?
Seberkas garis lurus nan terang menyorot menembus gelap?
Mengisyaratkan jejak langkah keluar dari maze rumit mengekang?
Atau tetapkah aku tak dapat beranjak se'inchi pun dari cangkang,
Terbelit benang-benang rumit kepentingan yang bertautan?

Bias pandanganku mulai berkabut senja
Tangisan awan masih membanjir di luar sana
Petir-petir mulai berkilat disusul gemuruh guntur bersahutan
Duka yang tak hilang makin menumpuk sendu
Marah yang tak kentara pun mulai timbul mengadu
Gerat guram menggumam menggigilkan tubuhku
Beranjakku keluar menuju ke arah pintu yang tak mungkin kutahu
Tak kuasa ku diam menyesal hening tanpa mencoba
Meskipun terbentur keras jua ujungnya.

2 comments:

moonlite! said...

intaan beraaaat bunguuut dah puisinya :)) seberat lemakku.

rinz said...

seberat lemakmu? ga gt berat donk? hahahahahahaha..... *amin*