Udara itu menderu
Berputar rengkuh berulang-ulang
Perlahan merangkak ketika terbit
Pulang terbang merayap senja
Kembali pagi ia datang
Meraih jemari ia coba
Tak kalah ia segan tuk terkapar
Tak pernah jenuh untuk menari rindu
Hanya lapar makin melilit
Serta sabar yang tergerogoti
Hingga rauman sukma menjerit lirih
Jelaga hitam mengkerak hati
Takkan panas bara tua yang lama mati
Tak peduli berapa ribu udara termakan api
Abu tetaplah hancur hingga mendebu
Dan periuk tetaplah kosong tanpa isi
Hingga sang angin pun pergi menangisi hari
Bising ia bergelut
Rancu suaranya merdu
Apakah resah ia mendesah?
Berputar rengkuh berulang-ulang
Perlahan merangkak ketika terbit
Pulang terbang merayap senja
Kembali pagi ia datang
Meraih jemari ia coba
Tak kalah ia segan tuk terkapar
Tak pernah jenuh untuk menari rindu
Hanya lapar makin melilit
Serta sabar yang tergerogoti
Hingga rauman sukma menjerit lirih
Hening asa hilang di udara
Mortal membeku hampa
Api nyala menjilat sang angin
Membara ia tampak luar
Merah merekah cerah
Serang ia coba membumihanguskan
Serang ia coba membumihanguskan
Meski api biru timbul menyengat
Tetaplah dingin periuk usang tak mungkin menghangat
Tetaplah dingin periuk usang tak mungkin menghangat
Jelaga hitam mengkerak hati
Takkan panas bara tua yang lama mati
Tak peduli berapa ribu udara termakan api
Abu tetaplah hancur hingga mendebu
Dan periuk tetaplah kosong tanpa isi
Hingga sang angin pun pergi menangisi hari

6 comments:
keren puisinya
Makasih mbak..
LOVE THIS!!!
sebenernya aku gak ngerti artinya (lagi),,hehe
tapi aku tetep suka bacanyaaaaa..xD
Dan periuk tetaplah kosong tanpa isi...cari isinya rinz...biar ga kosong lagi... :)
wow...mantafff puisinya, penuh makna sekali...^_^
imajinasi dalem :D
Post a Comment